Are you ready for home sick?
Saya, terbiasa menjadi anak yang manja selama saya hidup. Diantar jemput, makan tinggal makan, tidur tinggal tidur, semua saya lakukan sampai saya bosan dan terus seperti itu. Namun ternyata, kenyataannya, saya akan merindukan suasana itu, suasana rumah, suasana mahal yang ga bisa kamu dapatkan di tempat lain.
Saya belum tahu merantau itu apa, saya belum merasakannya. Bayangan merantau, dulu membuat saya senang. Senang sekali. Bahkan terkesan keren. Kuliah di luar, hidup mandiri, ngatur pengeluaran sendiri, dsb. Namun saya baru sadar sekarang, merantau tak semudah itu. Homesick, dan bayangkan saja anak manja kayak saya harus ngelakuin semuanya sendiri, bahkan ngeluarin motor dari garasi.
Realita tak seindah ekspektasi
Suatu ketika, ada saatnya yang ingin tinggal, malah harus pergi. Ada saatnya yang ingin berjuang, malah tidak berjuang sama sekali. Ada saatnya yang ingin dekat, malah menjauh. Ada saatnya saat realita, tak seindah ekspektasi.
Semuanya pasti ada saatnya. Cuma nunggu waktunya kapan aja. Kita ga bakal tau apa yang bakal terjadi kedepannya. Andai kita bisa liat masa depan, mungkin semuanya ga bakal serumit ini.
Tak ada yang bisa memaksa kita untuk pergi atau tinggal. Itu sudah hukum alam. Cepat atau lambat.
Well, siapapun itu, terimakasih sudah mewarnai hidup saya, entah warna apa yang kamu beri. Karena warna membuat lukisan menjadi hidup. Tanpa warna, hidup kamu cuma hitam putih, membosankan.
Dan, maaf kalo seandainya, atau memang saya gabisa ngasi warna yang sesuai sama keinginan kalian. Ga semua manusia punya warna yang lengkap kan? Mungkin ada yang hilang, atau malah udah dikasi ke orang lain.
Ga ada lagi alasanmu untuk tinggal. Life's goes on. Kejar mimpimu, untuk kamu, untuk orang tua kamu, untuk orang2 yang perjuangin kamu, dan orang2 yang kamu perjuangin.
Pilihan
Kita tidak harus selalu menjadi cerdas dan benar dalam menentukan pilihan. Presiden, mentri, bahkan professor sekalipun, seringkali salah memilih, hingga timbul berbagai macam masalah karena ke-salah pilihan-nya tersebut. Apalagi kita sebagai teenager labil. Kadang kita salah memilih di pilihan yang sepele. Aneh kan?
What's the first word that you thinking about love?
Saya punya cerita. Mungkin ini, bukan termasuk kategori cerita, karena ini lebih bersifat menggurui ketimbang menceritakan.
Ada teman saya, yang dalam satu forum menanyakan pertanyaan kepada audience nya, "Apa yang pertama kali terlintas di pikiran anda ketika anda mendengar kata 'love'?" Satu persatu dari mereka mengatakan "Happiness" "Boyfriend or Girlfriend" "A lots of money" tapi ketika dia bertanya pada saya, satu satunya yang keluar dari mulut saya adalah "Shit!" Yang disambut oleh suara tawa dari teman teman saya, dan orang-orang mungkin mulai menilai bahwa saya sudah bosan menjadi teenager.
Aku Ingin Bebas
Bebas.
Satu kata penuh makna. Bebas menentukan apa saja, melakukan apa saja, menghayalkan apa saja. Bebas, tanpa terikat dan keterpaksaan. Bebas. Bebas. Aku ingin bebas.
Kadang aku berfikir, apa sih kebebasan itu? Menurutku, selama kamu tak terikat akan sesuatu, kamu bebas. Tidak tertekan, tidak merasa bersalah. Tidak, Aku tidak sedang membicarakan bebas dalam artian negatif. Tidak, aku juga tak ingin kata bebas yang seperti itu.
Hidup. Bukankah ini hidup kamu? Kenapa selalu saja ada yang menghalangi keinginanmu? Cita-citamu? Terputus oleh keinginan orang yang ingin merubahmu menjadi apa yang mereka inginkan. Bukannya mereka tak memberimu kebebasan, hanya saja mungkin kamu yang merasa kurang nyaman.
Ada yang bilang, cita-cita itu bukan sesuatu yang harus kamu raih. Yang penting, kamu sukses.Sudah, sampai tahap itu saja. Walaupun yang mereka kebanyakan bilang, raihlah cita-cita setinggi langit. Cita-cita yang mana? Cita-cita siapa?
Lalu saat kamu mulai merasa tidak nyaman, karena mengikuti kehendak orang lain. Kamu mengalami keterpaksaan. Padahal, kalaupun kamu mau, kamu bisa mengikuti kehendaknya. Tapi namanya juga terpaksa, apapun yang terpaksa tidak akan baik jadinya. Kamu harus terpaksa mencintai sesuatu yang dicintai orang lain. Sedangkan, apa yang seharusnya ingin kamu cintai, harus terlupakan begitu saja. Apa itu namanya bebas?
Bebas. Entah kenapa kata ini terus mengusikku. Serius. Aku ingin bebas. Apa tidak boleh aku menentukan jalanku sendiri? Mungkin ini keterlaluan. Tapi sekali saja.
Bebas. Apa mungkin kita tak butuh bebas? Ya, mungkin saja. Satu-satunya yang mungkin kita lakukan adalah ikhlas. Mungkin kita terpaksa, mungkin kita ingin, mungkin kita terikat. Tapi ikhlas. Hanya itu yang bisa kita lakukan. Mungkin setelah ikhlas, Tuhan akan berikan jalan kepada kita untuk bebas. Walaupun mungkin bukan bebas seperti apa yang kita inginkan saat ini.
Bebas. Semua orang ingin bebas. Tapi sebelum bebas, ya kita memang harus ikhlas.
Tapi izinkan aku untuk mengucapkan kalimat ini, sekali saja.
Aku ingin bebas..
Dan kini, sebelum bebas, aku ingin belajar ikhlas.
Filosofi tentang Move On
Ada banyak hal di dunia ini yang kita seringkali tidak mengerti. Salah satunya adalah masa transisi dari kenangan menjadi cerita baru, atau kalau bahasa gaulnya move on.
Move on iya move on. Cuma dua kata, 6 huruf, 1 spasi, ngucapinnya gampang, nulisnya juga gampang, cuma praktiknya aja yang susah, apalagi kalo lagi seneng senengnya terus disuruh move on. Beh, mungkin itu rasanya terjun dari pesawat tanpa parasut. Pas jatuh, sakiiiit gitu, wiiiing~
Move on juga terdiri dari beberapa spesies. Yaya, ada yang move on dari nilai jelek, atau bisa disebut sebagai move on anak sekolahan, ada juga move on dari pacar, move on dari mantan, move on dari calon pacar, move on dari gebetan, move on dari calon gebetan, atau bisa jadi move on dari calon calon gebetan.
Fine lah ya, kalo move onnya dari nilai jelek, perubahannya bagus, bisa bisa. Nilainya siapa tahu jadi bagus kan? Terus terima raport hasilnya memuaskan, ngebanggain mama papa kakak adek nenek kakek tante om temen sd, smp,sma. Hhm..Bisa bisa..
Nah kalo move on dari pacar, misalnya masih pacaran, tapi mau selingkuh kan? Move on dulu ke yang lain, tapi pacarnya jangan diputusin, tinggal atau pending dulu deh bentar :|
Move on dari mantan, ini masih ada hubungannya sama move on dari pacar, setelah selingkuh, dan akhirnya ketahuan, dan dia akhirnya mutusin kamu, dan ternyata kamu menyesal karena masih sayang banget sama dia, yah move on lah, perbaiki diri aja.
Sekarang move on dari calon pacar sama move on dari gebetan. Gebetan, atau calon pacar yang belum tentu jadi pacar atau insya allah jadi 'temenan ajah' itu move on nya rempong banget. Biasanya yang ini tingkat kegalauannya kira-kira level 6 lah. Mau galau juga bingung, masalahnya jadian aja gak pernah gitu kan, mau galauin apa coba. Toh gapernah jadi milik, iya kan? Cuma ngarep 1 step aja lagi yang akhirnya kandas begitu saja, Yah move on lah nak
Ada juga move on dari calon gebetan, atau seseorang yang akan digebet. Jadi udah ancer ancer tu mau ngedeketin, eh dianya malah disleding sama orang lain, baru juga kenalan :|
Nah yang ini yang tingkat move onnya paling kesian. Move on dari calon calon gebetan. Kalo 'masih' gebetan, ga masalah lah ya, minimal udah kenal, udah pernah ngomong, udah coba pdkt ya walaupun kesannya PHP, kalo masih 'calon gebetan' yah minimal udah tau nama, udah nyapa (insya allah) udah tau lah gitu. Nah kalo 'calon calon gebetan' ini itu kayak seseorang yang akan menjadi calon gebetan kita. Jadi move onnya itu dari orang yang belum kita kenal, dan dianya juga ga kenal sama kita. Ini menurut saya tingkat galaunya yang lebih tinggi dan paling tinggi. Karena belum kenal aja udah galau, apalagi ntar pas kenal. Yaelah.
Yah mungkin sekian per-move on-an kita malam ini. Dadah, ku mau bobok dulu, mwaah :*
Bagaimana Seharusnya Pendidikan di Indonesia
Gue heran sama dunia jaman ini. Gue heran sama indonesia. Gue heran sama pendidikan indonesia. Gue heran, gue heran sama semuanya.
Hidup disini, gue tau itu udah takdir Allah yang mau gak mau harus kita jalanin. Tapi sebagai siswi SMA ya gue heran aja gitu, kenapa kita harus pelajarin pelajaran yang ga masuk akal, yang gunanya dalam kehidupan itu sedikit, bahkan gaada.
Misalnya aja ni ye, ngapain kita ngitung kecepatan gravitasi mangga yang jatuh? Terus kalo misalnya kita udah tau kecepatan gravitasinya, trus kita mau ngapain? Gunanya apa coba? Harusnya mangga yang jatuh itu, kita hitung yang masih bagus, trus dijual. Nah itu baru bener!
Misalnya lagi, ngapain juga kita pelajarin atom. Yang jelas-jelas ga keliatan. Penemunya aja gatau rupa atom kayak gimana. Terus ngapain dipelajarin? Kenapa dunia ini begitu...
Terus, ngapain juga kita pelajari sejarah? Kan udah masa lalu, ngapain masa lalu masih diinget-inget? Katanya harus move on, gimana mau move on kalo masih inget kenangan masa lalu. Harusnya kita itu belajar masa depan. Jadi kedepannya itu kayak gimana, nanti di masa depan kita harus gimana, itu yang kita butuhin nanti, iya kan?
Trus biar kenapa pelajaran di indonesia banyak banget? Dari yang ga penting, sampe yang ga penting banget, semuanya ada. Kenapa kita ga milih satu pelajaran dan dalami se dalamdalamnya? Jadi kan kita bisa lebih fokus kan? Ini kalo pelajarannya banyak banget, otak kita kebagi bagi, bisa bisa otak kita ga mampu, dan akhirnya kita gila.
Banyak banget hal hal aneh yang menurut gue ga masuk akal. Kenapa di indonesia kita sekolah harus pake seragam? Menurut orang yang dulu pernah gue tanyain, katanya sih biar ga ada kecemburuan sosial gitu, tapiiiiiii kalo misalnya setiap 3 tahun sekali dia harus ganti seragam, emangnya ga boros ya? Kain aja harganya berapa, belum ongkos jahit, belum lagi kalo anaknya misalnya makin gede, kan pasti harus ganti baju lagi? Yaampun biaya lagi dong?
Terus, biar kenapa siswa harus dikasi banyak pr, tugas, ulangan, kerja kelompok, les dan asdfghjkl lainnya? Emangnya ga kesian tu sama siswanya, gempor dah tu pala. Botak botak dah. Belum lagi mata pelajaran yang terlalu banyak, biar kenapa coba?
Gue heran aja sama kriteria orang pinter jaman sekarang. Kalo nilainya 9+ mesti dia bakal dicap pinter, entah mengerti atau ga. Sekarang, kita itu kayak sekolah cari nilai, bukan cari ilmu. Yaampun jaman udah ajegile aja.
Gue ngeposting gini karena gue udah stress berat sama yang namanya sekolah. Tugas udah bejibun, ulangan numpuk, belum ekskul terus les, trus kapan gue bisa bahagia kayak anak-anak seusia gue di finlandia? Udah sekolah pake baju bebas, ga ada pr, terus kita bisa bebas milih mata pelajaran yang mau kita dalamin. Bahkan finlandia merupakan negara dengan kualitas terbaik. Terus? Kenapa ga kita contoh?
Saya harap postingan ini banyak dibaca, yaa kali aja sistem pendidikan di Indonesia bisa brubah. Amin :"))
